Kupang, 20 Februari 2012, Dalam rangka mendukung Millenium Development Goals 2015 (MDGs 2015) Bidang Kesehatan yakni menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi secara Nasional, maka Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Kupang (BAPPEDA) bekerja sama dengan AIP-MNH (Australian Indonesian partnership for Maternal Perinatal Health) melaksanakan Kegiatan Lokakarya DTPS (District Team Problem Solving) KIBBLA (Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan Anak Balita) Tahun 2012.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk merumuskan perencanaan multipihak melalu strategi pemecahan masalah dan pendekatam tim (PMPT), sehingga diharapkan melalui proses ini dapat meningkatkan kualitas perencanaan program KIBBLA di tingkat kota, sehingga dihasilkan suatu dokumen rencana kerja dan anggaran tahunan, didalamnya termasuk intervensi dan kegiatan diprioritaskan yang mempunyai dampak terbesar terhadap penurunan angka kematian ibu, bayi baru lahir dan anak balita. Semuanya ini sejalan dengan startegi pembangunan jangka menengah dari kementrian Kesehatan guna mencapai target Millenium Development Goals 2015 (MDGs 2015). Kegiatan yang dibuka secara langsung oleh Kepala BAPPEDA Kota Kupang, Ir. Elvianus Wairata, M.Si berjalan dengan lancar selama 5 hari terhitung tanggal 15-20 November 2012, diikuti berbagi SKPD yang dianggap memiliki peranan dalam mendukung pelayanan kesehatan bagi Ibu, Bayi baru lahir dan Balita, yakni Dinas Kesehatan Kota Kupang termasuk didalamnya UPTD. Instalasi Farmasi Kota Kupang, Badan Pemberdayaan Perempuan (BPP) Kota Kupang, Badan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera (BKBKS) Kota Kupang, Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota (BPMK) Kota Kupang, dan perwakilan dari BAPPEDA Kota Kupang.
Dalam Kegiatan ini juga diungkapkan beberapa keberhasilan Pemerintah Kota Kupang Melalui Dinas Kesehatan dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu, Bayi baru lahir, dan Balita di Kota Kupang, yang menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Data perkembangan kasus kematian bayi, balita, dan ibu dapat dilihat pada grafik berikut ini :
Setelah dianalisis melalui beberapa tahapan dalam kegiatan ini, maka didapatkan kesimpulan ada 3 masalah utama dalam pelayanan KIBBLA yakni 1) Kematian dan Kesakitan Bayi , 2) Kematian dan Kesakitan Balita, 3) Kematian Ibu. Angka Kematian Bayi terbesar disumbang oleh Kasus Asfiksia sebanyak 14 kematian dari total 37 Kematian Bayi, sedangkan kesakitan Bayi terbanyak adalah kasus Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 71 Kasus dari 232 Kasus Kesakitan Bayi selama Tahun 2011. Untuk masalah Kesakitan dan Kematian Balita, Kasus DDB dan Diare masih dianggap menjadi penyebab utama terhadap peningkatan kematian dan kesakitan balita di Kota Kupang, sedangkan untuk Angka Kesakitan ibu Tahun 2011, kasus terbanyak adalah Bumil Anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK).
Berdasarkan berbagai penyebab utama ini kemudian team melakukan diskusi untuk merumuskan pemecahan masalah yang dituangkan dalam Dokumen DTPS KIBBLA Tahun 2012, yang akan menjadi pedoman advokasi bagi team advokasi dalam mendorong perencanaan KIBBLA dari tingkat terendah dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) tingkat Kelurahan hingga Musrembang Tingkat Kota Kupang sehingga diharapkan adanya dukungan dana yang memadai dalam mengatasai permasalahan KIBBLA di Kota Kupang. Selain itu dalam kegiatan ini juga dilaksanakan integrasi perencanaan sumber pembiayaan yang melibatkan multi pihak selain pemerintah Kota Kupang melalui APBD II, terdapat pula beberapa sumber dana lain yang ikut mendanai kegiatan pelayanan kesehatan KIBBLA antara lain seperti dukungan AIP-MNH, dukungan Pemerintah Pusat lewat Tugas Pembantuan (TP) berupa Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), dan berbagi sumber dana lain yang berkotntribusi bagi pelayanan kesehatan KIBBLA.Melalui perencanaan multi pihak seperti ini, diharapkan dokumen perencanaan KIBBLA ini mendapat perhatian serius dari segenap masyarakat, pemerintah, dan stake holder terkait guna mendukung Reformasi pelayanan kesehatan Ibu dan Anak, sehingga diharapkan beberapa tahun kedepan target MDGs yang ditetapkan dapat dicapai melalui kerjasama multi pihak.







